Jamaluddin al Afghani

Pejuang Islam masa kini gigih menentang kezaliman dan tirani
( 1838 M- 1897 M )
Oleh   : A.  S. Anam

Biografi Jamaluddin Al Afghani
Mukaddimah
Menulis tentang biografi Afghani laksana menulis catatan  kehidupan masyarakat falsafah yang diidamkan oleh Abu Bakar Arrazi dalam  salah satu bukunya tentang falsafah. Abbas El Akkad dalam catatannya 1954 menulis tentang Afghani :  Afghani telah menguasai paham materealisme secara detail jauh sebelum  paham Marxisme merambah benua Eropa, menurut Afghani sosialisme yang sangat ideal adalah sosialisme islam yang tujuan utamanya untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan sosial. Islam Mensyariatkan zakat tak lain untuk mencegah ketamakan dan egoisme, sementara sosialisme yang digembar-gemborkan oleh barat berdiri diatas pondasi kedengkian dan persaingan mengejar materi diantara  mereka. Siapakah sebenarnya Jamaluddin Al Afghani ? anda yang penasaran silahkan menyimak beberapa kisah pejuang Islam tersebut berikut ini :

Latar belakang keluarga Afghani
Namanya adalah Jamaluddin Al Afghani bin Shaftar, dari keluarga yang terpandang di Afghanistan. Nasabnya sampai kepada salah seorang ahli hadits Imam Turmudzi dan silsilahnya sampai kepada sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib.  Orang orang Iran mengklaim bahwa Afghani adalah kelahiran Asadabad Iran, Adapun orang India menjadikan desa Syirut sebagai tanah kelahiran Afghani. Sedang orang Turki menganggap Afghani adalah kelahiran Azerbaijan. Hanya saja menurut data yang akurat bahwa Afghani  dilahirkan di Iran, adapun mengenai perbedaan dan perdebatan seputar tempat kelahirannya menunjukkan bahwa Afghani adalah sosok yang sangat menakjubkan dan menjadi milik umat, maka pantas kalau seandainya mereka berebut untuk memilikinya sebagaimana sahabat Salman Alfarisi pernah diperebutkan antara golongan muhajirin dan Anshor, Muhajirin mengatakan : “Salman adalah golongan kami karena ia telah hijrah untuk mencari kebenaran” sedang golongan Anshor berkata : “Salman adalah golongan kami karena sebelum Rasulullah datang ke Medinah Salman telah lama bersama kami”, tapi Rasulullah menengahi perdebatan ini dan memberi keputusan : “Salman adalah dari golongan kami ahli bait”. Tentunya ucapan Rasulullah ini mengandung makna yang lebih dalam lagi.
Afghani bisa dikatakan aktivis umat yang hampir kehidupannya dihabiskan untuk berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain demi untuk merealisasikan cita-citanya yaitu mempersatukan umat dan bersama mengusir penjajah dari bumi timur. Afghani hidup di zaman ketika umat Islam berada dalam keadaan lemah akibat penjajahan yang berkepanjangan, dan  disaat Eropa berada dalam puncak kejayaannya di bidang ilmu pengetahuan yang mencengangkan dunia dan di saat Eropa menuduh Islam bertanggungjawab atas kemunduran  umat Islam. Afghani lalu mempelajari penyakit yang diderita umat. Sebagai seorang dokter umat Afghani sangat berhati-hati dalam pengobatan ini karena pengobatan yang salah akan berakibat penyakit umat akan bertambah parah. Afghani akhirnya menyimpulkan bahwa penyakit yang diderita umat saat itu adalah akibat umat islam yang tidak memahami dan mengamalkan ajaran islam secara benar, dan obat yang paling mujarab adalah mengajak umat Islam untuk bersatu dan kembali kepada ajaran agama mereka sebagaimana ucapan amir Syakib Arselan bahwa kemunduran yang dicapai umat Islam karena menjauhi agama mereka.
Keluarga Afghani punya pengaruh yang sangat kuat di  hati warga Afghanistan sehingga siapapun orang yang menguasai wilayah Afghanistan akan berpikir dua kali lipat untuk memusuhi keluarga Afghani, tapi keluarga Afghani sempat diasingkan ke Kabul ketika wilayah Afghan di rebut oleh Muhammad Khan. Jamaluddin Al Afghani lahir di Asadabad 1254 H/ 1838 M.
Pada waktu umur 8 tahun Afghani sudah mulai bergelut dengan berbagai ilmu setidaknya ada empat cabang ilmu yang ia kuasai :
Ilmu bahasa Arab ( seperti,nahwu, sharaf, balaghah) , ilmu syariah ( seperti tafsir, hadits, fiqh, uhul fiqh, ilmu kalam , tasawwuf ), ilmu rasio ( seperti  mantiq, falsafah, politik, teori alam dan ketuhanan), dan ilmu pasti ( seperti matemateka, aljabar, astronomi. Kedokteran dan anatomi ).
Pada waktu umur 18 tahun ia telah menyelesaikan pengembaraannya di belantara ilmu sehingga ia muncul sebagai seorang yang mempunyai kemampuan dalam berbagai ilmu dan kepribadian yang menakjubkan.
Setelah itu ia pergi ke India untuk mempelajari ilmu-ilmu pasti dengan metode Neo-Eropa. Belum genap setahun ia lalu ke Hijaz untuk menunaikan haji, ia sampai ke Makkah tahun 1273 H/ 1857 dan setelah itu ia kembali ke Afghanistan yang saat itu masih dibawah Muhammad Khan. Ketika Muhammad Khan menuju ke Harah untuk menaklukannya dan menyerahkannya kepada sultan Ahmad Syah, Afghani beserta tentaranya mengepung kota ini sampai terdengar berita wafatnya Muhammad Khan. Kemudian yang memimpin Harah adalah putra mahkota Ali Khan 1280 H/1863M. Sementara itu salah seorang menteri rafiq Khan mengusulkan supaya semua saudara Ali Khan ditangkap dan ditawan. Dalam tentara Harah sendiri terdapat 3 orang yang berpengaruh yaitu Muhammad A`dham, Muhammad Aslam, dan Muhammad Amin. Ketika mereka mendengar rencana penangkapan ini mereka segera lari menuju ke daerah kekuasaan leluhur mereka. Sementara itu Muhammad A`dham bersama keponakannya Abdurrahman dapat menguasai kerajaan dan bahkan bisa membebaskan Muhammad Afdhal dari penjara Qaznah dan mengangkatnya sabagai amir Afghanistan. Setahun kemudian kekuasaan direbut kembali oleh Muhammad A`dham Khan sehingga Afghani karena kedekatannya dengan Muhammad a`dham diuntungkan dengan kemenangan yang di raih Muhammad A`dham. Kemudian terjadilah peperangan besar antara Ali Khan yang dibantu Inggris melawan Muhammad A`dham dan Abdurrahman. Dalam peperangan ini pihak Ali Khan memperoleh kemenangan.  A bdurrahman kemudian lari ke Bukhara sementara muhammad a` dham lari ke Naisabur Iran dan meninggal di sana. Sementara itu afghani tetap tinggal di kabul karena dengan nasabnya yang sampai kepada ahlul bait membuat ia dihormati rakyat kabul dan mendapat perlindungan dari mereka.Afghani kemudian minta ijin untuk menunaikan haji dan ia diperbolehkan dengan syarat tidak melewati jalan Iran karena  dikhawatirkan ia akan bertemu dengan muhammad A`dham. Akhirnya Afghan berangkat melalui jalan India 1285 H/ 1868 M dan disambut dengan hangat dan ia menetap di sana kurang dari sebulan.

Afghani di India
Selama di India ini Afghani mengobarkan semangat rakyat India untuk melawan penjajah. Diantara pidatonya d depan rakyat India : “Ketahuilah bahwa tangisan tidak pantas kalian lakukan, Sultan muhammad Ghaznawi datang ke india tidak dengan menangis melainkan dengan mengangkat senjnata menentang kezaliman” . Menurutan Makhzumi Pasha bahwa rakyat India ketika mendengar pidato Afghani yang sangat menyentuh hati mereka, mereka tak bisa menahan tangisan mereka karena sedih dengan kondisi mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk  melawan penjajah Inggris.

Afghani di Mesir
Afghani kemudian menuju ke mesir dan tinggal disana kurang dari 40 hari. Selama di Mesir ia sering keluar masuk Al Azhar. Banyak para pelajar Syiria yang memintanya untuk membacakan  kitab Idzharul haq karangan Syaikh Rahmatullah Al Hindi.selama di Mesir inilah Muhammad Abduh bertemu dengan Afghani dan berusaha untuk menimba ilmu darinya. Pada kesempatan ini Muhammad Abduh ditemani oleh Hasan Ath-thawil yang saat itu mengajar pelajaran mantiq di Azhar menghadap Jamaluddin Al Afghani.

Afghani di Turki
Ia lalu menuju ke Astana Turki. Ia bertemu dengan Ali Pasha dan mendapat penghormatan darinya, setelah enam bulan ia diangkat menjadi anggota majlis maarif. Selama di  Turki ini Afghani mulai berhubungan dengan Sultan Abdul Hamid. Selama di Turki Afghani mengusulkan kepada Sultan Abdul Hamid untuk melakukan reformasi di bidang keagamaan dan politik. Nasib sial harus diterima Afghani karena banyak orang yang  tidak suka dengan ketekunan Afghani dengan Filsafat padahal apa yang selama ini disampaikan oleh Afghani tak lain adalah apa yang pernah dilontarkan Alfarabi lewat cita-citanya yang ia muat dalam kitabnya Ara`u Ahlil Madinah alfadhilah.  Berikut cuplikan pidato Afghani didepan Darul Funun ( gedung kesenian ) yang dihadiri para tokoh pemerintahan, ilmuwan, wartawan dan beberapa menteri : “Hanya dengan ruh, tubuh akan merasakan kebahagiaan hidup, ruh tersebut bisa berbentuk nubuwwah atau hikmah, hanya saja kenabian adalah anugerah Allah sedang hikmah dicapai dengan berpikir dan bernalar. Nabi dijaga dari kesalahan sedang orang bijak tidak luput dari salah. Hukum Allah wajib kita ikuti sedang kata orang bijak kita ikuti selama tidak menyalahi hukum syariat “.
Anehnya pidato ini membuat Hasan Fahmi Affandi menuduh Afghani telah menyamakan antara kenabian dan hikmah. Berita ini tersebar luas sehingga Afghani berusaha untuk membela diri dan menunjukkan bahwa ia tidak bersalah.  Akhirnya setelah beberapa bulan di Astana ia memutuskan untuk pindah dan angkat  koper dari Astana. Ada oreang yang membela mati-matian Afghani dan ada juga yang menuduhnya sebagai boneka penjajah dan anggota gerakan free mason. Mustafa Fauzi Abdul Latif dalam bukunya yang berjudul “ Da`watu jamaluddin Al Afgani Fi Mizanil Islam “ menganggap Afghani sebagai penyebab rusaknya umat pada era modern ini. Lain lagi dengan Muhsin Abdul Hamid dalam bukunya yang berjudul “ Jamaluddin Al Afghani Al Mushlih Al Muftara Alaih” menganggap Afgani sebagai sosok yang reformis.

Afghani kembali lagi ke Mesir
Selanjutnya ia menuju ke Mesir lagi dan tiba pada awal Muharram 1288H/ 1871 M. Oleh Riyadl Pasha ia diminta untuk tetap tinggal di Mesir dan dijanjikan fasilitas mengajar disana dan diimingi gaji 1000 pound.Semenjak saat itu nama Afghani mulai terkenal di seantero Mesir . Ia mengajar llmu-ilmu Arab kuno dan buku-buku Eropa yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab seperti falsafah , tasawwuf, sejarah, polotik, sosial. Afghani memberi kesejukan baru dalam memahami falsafah karena falsafah yang ia ajarkan menyeimbangkan antara nalar dan amal dan juga dalam merenungi tentang ketuhanan, alam dan manusia. Afghgani adalah orang pertama yang mampu membangkitkan semangat nasionalisme. Ia mampu mengerakkan jiwa rakyat Mesir untuk menuntut kebebasan dan keadilan. Diantara pidato Afghani yang ia sampaikan di kota Iskandariyah sebelum turunnya Khadevi Ismail dari tahtanya “ Engkau semua wahai para petani yan miskin, kalianlah yang telah membelah tanah untuk kalian tanami supaya untuk mengganjal perut kalian dan mencukupi keluarga kalian, mengapa tidak kalian belah hati orang-orang yang telah memakan jerih payah kalian? “.Afghani juga mengkritik keadaan rakyat Mesir yang membiarkan bangsa asing ikut campur dalam urusan dalam negeri mereka.
Saat itu keadaan ekonomi dan politik Mesir memburuk karena intervensi pihak Eropa kepada mereka yang berakhir dengan penurunan Khadevi Ismail.Dan setelah itu mulai muncul gelagat orang-orang yang tidak suka dengan Afghani dan berusaha mencari kesempatan untuk menjauhkan Afghani. Mereka mulai mempelajari secara detail tentang Afghani dan mencari letak kelemahan yang memungkinkan mereka untuk menjatuhkan nama Afghani atau paling tidak melenyapkan Afghani dari mesir.Mereka berusaha memfitnah Afghani yang sangat gandrung dengan filsafat yang mana saat itu banyak juga ulama Mesir yang membenci filsafat dan akhirnya pucuk dicinta ulampun tiba. Atas fitnah ini Khadevi Taufik yang sebelumnya mengagumi Afghani tiba-tiba termakan fitnah ini dan mengeluarkan intruksi untuk mengeluarkan Afghani dari Mesir.

Afghani kembali lagi ke India
Afghani lalu kembali ke India 1879 M dan tinggal di Haiderabad. Di India ini Afghani menulis kitab yang berisi sanggahan terhadap kaum Dahriyyin yang tidak percaya terhadap hari kebangkitan dan pembalasan terhadap manusia di akhirat. Paham ini berusaha untuk mencampakkan agama dalam kehidupan mereka dan tidak memberi kesempatan kepada agama untuk mengatur mereka. Afghani dalam bukunya  diatas juga menjawab pertanyaan Muhammad Washil tentang faham Naturalisme yang berkembang pesat di India saat itu yang mana faham ini mendapat dkungan kuat dari penjajah Inggris “ Para pengikut madzhab ini mengingikan lenyapnya agama, dan meletakkan pondasi hidup bebas, mereka dengan segala cara mewujukan  cita-cita ini, kalau perlu mereka memutarbalikkan fakta dari keadaan yang sebenarnya,  hasil yang mereka raih drai mukaddimah-mukaddimah yang mereka lakukan tak lain adalah timbulnya kerusakan dalam kehidupan masyarakat yang bertamaddun, dan runtuhnya bangunan sosial kemasyarakatan. Tidak dapat disangkal lagi bahwa agama sebenarnya adalah cara hidup bermasyarakat, dan tamaddun tak akan kuat kalau pondasinya tanpa agama. Ajaran dari paham ini adalah membuang agama dan mencampakkan semua kepercayaan agama. Adapun sebab dari tidak berkembangnya faham  ini adalah karena ia berdiri diatas pondasi yang lemah dan syariatnya yang rusak yang mana manusia yang mempunyai fitrah yang sehat akan menolaknya mentah-mentah”. Tahun 1883 Afghani menyerang pemikiran Ernest Renan yang menulis soal Islam dan ilmu yang dimuat dalam salah satu majalah di Perancis. Saat itu di Mesir sedang terjadi gejolak perang , Afghani diminta untuk tinggal di Kalkuta demi keamanan. Setelah krisis di Mesir mereda Afghani dijinkan untuk keluar dari India dan pergi kemanapun.

Afghani ke Eropa dan merintis Al Urwatul Wutsqa
Afghani kemudian ke Eropa dan disana ia  menuju ke Paris yang saat itu baru saja merasakan iklim kebebasan setelah suksesnya revolusi Perancis dan jebolnya penjara Bastille lambang kezaliman. Di Paris inilah Afghani memanfaatkan iklim kebebasan dengan mendirikan lembaga Al Urwatul Wutsqa yang menerbitkan majalah bernama Al Urwatul Wutsqa dan mengajak kepada kaum muslimin untuk bersatu di bawah panji khilafah islamiyyah. Karena faktor tekanan dari penjajah Inggris, majalah tersebut hanya terbit kurang dari 12 bulan . Majalah Al Urwatul Wutsqa ini dilarang keras untuk masuk Mesir, India, dan Sudan dan semua ini karena tekanan dari Inggris.

Perdebatan seputar Al urwatul wutsqa
Beberapa ide dan gagasan yang dilontarkan Jamaluddin Al aghani  dalam majalah Al urwatul wutsqu sempat menjadi perdebatan panjang diantara para pengamat sejarah apakah tulisan-tulisan tersebut adalah pemikiran Afghani atau pemikiran Muhammad Abduh, sebagaimana yang kita ketahui bahwa hubungan antara keduanya sebagai seorang guru dan murid sangat dekat sekali lebih-lebih ketika keduanya bertemu di Paris tahun 1884 dean bersama mendirikan Jamiyyah urwatul wutsqa  yang pada akhirnya memberikan amanat kepada Afghani untuk menerbitkan majalah yang bercorak politik, sosial dan keagamaan. Namun beberapa bukti dan fakta mengungkapkan bahwa tulisan-tulsan tersebut adalah ide dari seorang Afghani berdasarkan alasan berikut ini :
1. 18 edisinya yang terbit di Paris 13 maret 1884 sampai 17 oktober 1884 berisi tentang rencana pembentukan gerakan rahasia yang rencananya akan tersebar ke seluruh penjuru dunia yang bertujuan untuk membaskan bangsa-bangsa timur dari belenggu penjajah Inggris ( saat itu Inggris menguasai Mesir, India, dan lainnya ). Ini menunjukkan bahwa ide dari gerakan ini diotaki aleh satu orang yaitu Jamaluddin Al Afghani dan kecil kemungkinan Muhammad Abduh berada dibalik ide dan gagasan yang revolusioner ini.
2. Pengakuan Muhamad Abduh sendiri bahwa tulisan tulisan di Al urwatul Wutsqo adalah ide Afghani, sedangkan peran Abduh hanyalah sebagai peneliti tulisan tersebut dan mengeditnya dan bahkan Afghanilah yang menyuruh Muhammad Abduh untuk menjadi pemimpin redaksi majalah tersebut.
3. Semenjak kegagalan revolusi Orabi, Abduh kembali kepada pendapatnya semula bahwa untuk melawan penjajah tidak bisa dengan melakukan revolusi secepat itu melainkan dengan cara pelan-pelan yaitu dengan cara membenahi pendidikan dan pengajaran yang saat itu sangat lemah. Abduh berpendapat bahwa akar ketertindasan umat karena kebodohan mereka selama ini sehingga memudahkan penjajah untuk bertindak seenaknya di tanah air mereka. Rasulullah sendiri ketika melihat banyak kaum muslimin yang masih belum bisa baca tulis mewajibkan kepada tiap tawanan perang Badar untuk mengajar baca tulis kepada 10 pemuda-pemuda islam saat itu. Revolusi Orabi sendiri berakhir dengan kekalahan Mesir dan duduknya Inggris sebagai penjajah. Tapi hal ini berbeda dengan Afghani yang menganggap bahwa revolusi adalah cara yang ampuh untuk menghentikan tirani penjajah.
4. Muhammad Abduh sejak awal sebenarnya sangat tidak bersemangat untuk melakukan revolusi bersama Afghani. Itulah mengapa ketika revolusi Orabi gagal Abduh kembali ke Beirut tahun 1885 untuk mempraktekan gagasannya untuk mereformasi pendidikan dan pengajaran umat.
5. Tuduhan bahwa Afghani tidak mahir dalam berbahasa Arab sehingga menyerahkan tugas penyerasian bahasa  kepada Abduh adalah tidak benar, bukankah sejak kecil Afghani telah mendalami ilmu bahasa Arab sehingga ia termasuk orang yang jenius dan diperhitungkan di bidang ini, kalau toh Afghani menyuruh abduh untuk meneliti tulisan dan mengeditnya itu bukan hal yang aneh, karena sebagai seorang guru Afghani berhak memerintahkan kepada muridnya apa saja selama tidak bertentangan dengan syariat.
6. Selama penerbitan majalah ini Abduh sering tidak menetap ke Paris, tapi ia sering berpindah –pindah tempat. Jadi majalah ini tetap terbit meski tanpa kehadiran Abduh.
7. Afghani jarang menuliskan ide-idenya langsung kedalam buku melainkan ia sampaikan lewat ceramah-ceramah yang ia ajarkan langsung di depan murid-muridya, sehingga tak salah kalau Abduh sebagai muridnya mengabadikan ide Afghani dalam catatan pribadinya. Ini tak beda ketika Muhammad Rasyid Ridla yang notabene sebagai murid kesayangan Abduh selalu mencatat pelajaran tafsir yang diajarkan Abduh sehingga  tafsir yang kita  kenal dengan tafsir Al manar sebenarnya adalah penafsiran Muhammad Abduh yang dibukukan Rasyid Ridla,  meski tak bisa dipungkiri banyak pemahaman dari Rasyid Ridla yang masuk ke dalam tafsir tersebut. Dari Paris Afghani menuju ke London untuk membahas soal revolusi Al Mahdi di Sudan tapi tidak mencapai kata sepakat. Disini Afghani dirayu oleh syah Iran untuk ikut dalam membantu penjajah Inggris memadamkan revolusi Al Mahdi dan di imingi dengan jabatan namun Afghani sebagai pejuang umat tidak begitu saja takluk dengan rayuan ini.

Afghani menuju ke Iran
Pada tahun 1303 H Afgani lalu kembali menuju Iran lagi.Di Iran Ini Afghani mengajak kepada syah Iran untuk melakuan reformasi sosial dan memberlakukan sistem parlemen.  Afghani lalu ke Inggris dan mengecam habis Sah Iran dalam koran Dliyaul Khafiqin.

Afghani kembali ke Turki
Setelah itu ia kembali ke Turki dan mendapat pengawalan dari Sultan Abdul hamid apalagi setelah terrdengar terbunuhnya syah Iran. Kedatangan Afghani ke Turki kali ini sebenarnya atas undangan dari sultan abdul Hamid lewat Abul Huda Alhalabi. Setelah Afghani tiba ke Turki Sultan Abdul Hamid berusaha mencegah Afghani keluar dari Turki. Keberadaan Afghani di Turki sangat menguntungkan Sultan Abdul Hamid, karena seorang Afghani sebagai pemimpin revolusioner sesekali kadang akan  membahayakan kedudukan Sultan Abdul Hamid.

Mengenal Madzhab dan pemikiran Afghani
Madzhab yang dianut Afgani adalah Hanafi. Meski ia mengikuti madzhab tertentu tetapi komitmen Afghani terhadap Sunnah luar biasa. Ia juga konsisten terhadap pokok-pokok dan cabang dari madzhabnya, semangat beragamanya sebagaimana pengakuan orang-orang yang hidup pada masanya tak tertandingi.Ketika Afghani masih di Mesir ia tidak merasa gengsi untuk ikut berada di tengah-tengah khalayak,  tapi meski demikian Ia tetap menjaga muruahnya sebagai orang yang mengenal agama. Orang-orang menyukai Afghani dan membanjiri majlisnya yang penuh dengan nuansa ilmiyyah. Menurut Afghani adalah kemajuan yang hakiki  berdiri diatas pondasi  ilmu dan moral sementara kemajuan materi yang diraih barat dengan mendirikan bangunan-bangunan yang megah, pabrik-pabrik kelas wah, kota-kota yang dihias dengan indah, atau rakitan-rakitan senjata dan bom pemusnah bukanlah kemajuan yang ideal karena kemajuan materi yang tidak diimbangi dengan kemajuan moral hanya akan menciptakan sebuah peradaban yang sangat lemah dan mudah diombang-ambingkan.
Pemikiran Afghani dan gaya hidupnya mempunyai beberapa karakteristik antara lain :
Watak ruhiyyah yang bisa dilihat dari segala tindakan Afghani baik ketika mengucapkan kata-katanya atau ketika ia  diam.
Jiwa agamis yang melekat pada Afghani yang mewarnai semua ide-ide dan angan-angannya.
Kesadaran Moral yang tinggi yang menguasai seluruh perbuatannya.
Afghani  mengkririk sikap para politisi timur yang kurang tabah dan sabar dalam menghadapi cobaan “ Orang barat tetap komitmen terhadap apa yang mereka yakini benar meski itu sebenarnya salah, sementara orang timur tidak komitmen dalam segla hal meski itu benar “.
Afghani juga berusaha untuk menyemangati umat Islam untuk  melakukan ijtihad dan tidak pasrah mengikuti pendapat orang tanpa mengetahui landasan dalil alias bertaklid buta. Afghani juga mengkritisi kaum fatalis yang tidak mau  berjuang untuk mengusir penjajah dan hanya mengharapkan turunnya pertolongan Allah tanpa melakukan usaha dan ikhtiar. Afghani juga mengatakan bahwa tak ada orang islampun baik ia Sunni, Zaidiyyah, Ismailiyyah, Wahabi, atau Khawarij yang berfaham Jabriyyah ( fatalisme ), bahkan semua aliran tersebut berpendapat bahwa manusia diberikan kebebasan untuk  melakukan perbuatannya dan inilah sebenarnya arti dari kebijaksanaan Tuhan dan keadilannya sehingga hanya orang yang beramal baik yang akan mendapat pahala surga dan orang yang beramal jahat yang akan mendapat siksa neraka. Tapi seorang muslim yang lurus menurut Afghani harus meyakini kebenaran qadla` dan qadar  sebab iman kepada keduanya didasarkan pada nash yang qath`I dan sesuai dengan fitrah manusia. Menurut Afghani ilmu sejarah, sosial, serta ilmu alam selalu didasarkan pada keyakinan adanya qadla` dan qadar. Menurutnya kalau seandainya kemampuan manusia menjadi ukuran dan standar untuk menganalisa kejadian sejarah dan sosial tentunya tidak ada orang lemah yang menjadi kuat, kejayaan tak akan runtuh, kekuatan tak akan tumbang. Afghani juga mengkritik orang-orang yang menganggap bahwa kemunduran Islam karena mereka berpegang pada Qadla` dan qadar. Penulis sendiri sangat setuju dengan Afghani karena terbukti dalam sejarah peperangan awal Islam, kaum muslimin selalu dapat memenangkan pertempurannya melawan musuh islam meski jumlah pasukan dan senjata mereka lebih sedikit. Perang Badar adalah diantara bukti bahwa kemenangan ynag dicapai umat Islam saat itu adalah merupakan kehendak Allah yang ingin menjadikan Islam sebagai agama yang unggul dan tak terkalahkan.
Afghani mengkritik banyak orang yang rela membantu bangsa asing menginjak tanah mereka dan membiarkan bangsa sendiri di caplok penjajah. Menurutnya pengkhinanat adalah orang yang mempunyai kekuatan untuk menghadang penjajah dan tidak mau melakukannya dan justru malah menjilat kepada penjajah. Menurut Afghani penjajahan yang lebih berbahaya adalah penjajahan dalam politik dan budaya.  Barat berusaha untuk melemahkan semangat nasionalisme timur dengan cara berusaha membuat orang timur mengingkari kemajuan yang telah mereka capai pada abad-abad sebelumnya disaat bangsa barat saat itu berada dalam masa kegelapan dan menganggap bahwa peradaban Arab, Persia, dan India tidak mempunyai peradaban dan sastra yang layak untuk dikenang.
Afghani mengomentari keadaan umat saat itu “ Penyakit umat ini adalah mereka selalu ingin berpecah belah dan sepakat untuk tidak bersepakat “.
Afghani adalah orang yang cinta damai. Ia mengatakan   bahwa banyak negeri yang dibuka oleh Islam dengan damai, dan pilihan yang diberikan pada orang ahli kitab adalah dua hal yaitu memeluk islam atua membayar pajak. Kedua pilihan ini bertujuan untuk menghindari pertumpahan darah. Jihad dalam Islam menurutnya dakwah untuk  mengajak kepada agama dan moral ke seluruh penjuru dunia. Sementara perang yang dilakukan bangasa barat adalah bertujuan untuk memecah ras, atau karena adanya keinginan untuk menjajah bangsa lain.
Afghani adalah seorang Muslim sejati yang selalu menggunakan rasiomya. Ia mengkritik orang yang taklid dalm aqidah tanpa mengetahui dalil, sementara banyak nash yang mengatakan bahwa kebahagian akan dicapai oleh orang yang mengunakan akalnya. Dalam surat Al Mulk ayat 10 : Dan mereka kembali menyesali dirinya, katanya: “Sekiranya peringatan rasul itu kami dengarkan atau kami pikirkan, tentu kami tidak termasuk golongan penghuni api neraka yang menyala ini  “. Afhani juga mengatakan bahwa Al Qur`an diturunkan adalah untuk difahami dan ditadabburi dan  bukan untuk dijadikan hiasan atau dicampakkan dari praktek keseharian. Dalam surat Yusuf ayat 2 :” Kami turunkan berupa Al Qur`an dalam bahasa Arab, supaya kamu dapat  memahaminya “ dan dalam Az zukhruf ayat 3 “ Sesungguhna kami menurunkan Al qur`an dengan bahasa Arab, sepaya kau dapat memahaminya”.
Afghani menganggap bahwa pilihan yang tepat bagi masa depan peradaban Islam yang menjanjikan adalah dengan cara menolak penyakit taklid terhadap turats yang membabi buta dan tetap berpegang pada referensi-referensi islam ( Marji`iyyah Islamiyyah ), Afghani mengatakan “ Kita sebagai orang Islam tidak akan mendapatkan kebaikan sama sekali apabila kemajuan dan tamaddun yang kita capai tidak didasarkan pada pondasi agama dan Al Qur`an, yang mana kita tidak akan lepas dari kemunduran kita ini kecuali dengan menempuh jalan ini. Fenomena-fenomena yang membaik yang mengindikasikan kemajuan dan tamaddun saat ini sebenarnya adalah kemunduran, karena  pada dasarnya kita hanyalah taklid kepada bangsa Eropa, yang mana taklid ini akan membawa kita kagum dengan bangsa asi ng, dan pasrah dengan semua yang mereka lakukan, sehingga sangat ironis sekali kalau  seharusnya dengan Islam  membawa mereka untuk menang dan berkuasa berubah menjadi lemah dan takluk dibawah umat lain,…Agama adalah pilar Umat dan ia adalah satu-satunya rahasia seorang manusia dapat meraih kebahagian “.
Afghani berusaha membangunkan  negeri-negeri Islam dari tidur panjangnya. Melenyapkan penjajah Inggris dari tanah air mereka. Ia sangat membenci Inggris, itulah mengapa di setiap kesempatan Afghani selalu mengobarkan semangat umat untuk menentang Inggris..

Hubungan antara Afghani dengan Sultan Abdul Hamid
Afghani sebenarnya mendukung rencana sultan Abdul hamid untuk mendirikan Jamiah Syarqiyyah yang bertujuan untuk menyatukan kaum muslimin dalam pemikiran dan pergerakan mereka. Selain itu Afghani juga mengusulkan penyatuan antara faham Sunni dan syiah yang mana antara keduanya sejak dulu selalu sensitif dengan perbedaan bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya pertumpuhan darah antara kedua kelompok ini. Namun Sultan Abdul hamid tidak menyetujui usul Afghani karena bagi Sultan yang penting adalah bagaimana ia mampu menyatukan umat Islam untuk mengusir penjajahan internasional serta menumbuhkan perasaan senasib diantara bangsa-bangsa timur. Dengan ini kekhilafahan Utsmaniyyah akan tetap mempunyai kekuatan dan gengsi da mata bangsa timur. Sultan Abdul Hamid sengaja tidak memasukkan agenda Afghani sebagai agenda yang mendesak..
Sebagai manusia yang di beri akal tentunya ia akan menggunakan akalnya untuk berpikir dan menentukan sikap dan kadang apa yang ia pikirkan berbenturan deangan kepentingan orang lain. Demikianlah apa yang terjadi dengna Afghani yang terpaksa harus berbeda pendapat dengan sultan Abdul hamid dalam beberapa hal;
1.Dukungan yang diberikan Afghani kepada para kelompok yang berusaha membrontak kepada  Sultan Abdul hamid. Mereka tak lain adalah kaum nasionalis dari anak-anak Turki Utsmani. Afghani memberikan dukungan pada mereka karena   mungkin melihat banyak faktor dan psikologi Afghani sendiri.  Afghani mungkin melihat penindasan-penindasan yang dilakukan kekuasaan Utsmani terhadap wilayah-wilayanh yang ada di sebagai bawahannya. Afghani juga melihat saat itu sistem kekuasaan yang ideal adalah pemberlakuan parlemen yang mana kekuasaan berdasarkan pada undang-indang dan aturan ynag membatasi kekuasaan absolut. Ini bisa kita lihat bagaimana konfrontasi yang terjadi antara Syah Iran dan Afghani. Sebagai catatan bahwa keinginan Afghani yang paling asasi adalah terwujudnya persatuan umat islam. Tak salah banyak orang yang menjulukinya sebagai bapak Pan-Islamisme karena usahanya yang luar biasa.
2. Afghani mengecam negara-negara Eropa yang berusaha membagi-membagi daerah Utsmaniah menjadi negara yang kecil-kecil. Tapi anehnya Afghani tidak atau mungkin belum memberi kecaman kepada penjajah Perancis  sementara Sultan Abdul Hamid sendiri berusaha untuk mengusir Perancis dari afrika timur.
3. Ditemukannya sebuah dokumen yang ngatakan  bahwa Afghani bekerjasama dengan salah seorang yang bekerja di kementerian luar negeri  Inggris untuk meruntuhkan Khilafah Utsmaniyyah. Dalam dokumen tersebut dinyatakan bahwa Afghani bersama Mr. Blanc adalah orang yang mengusulkan kepada pihak Inggris untuk mengangkat Syarif Husein yang saak itu menjabat sebagai Amir kota Makkah menjadi Khalifah kaum muslimin menggantikan khalifah dari keturunan Utsman (Turki).Mr. Blanc dalam bukunya yang berjudul “ Masa depan Islam “ menulis  tentang keinginan mereka untuk meruntuhkan kekuasaan Utsmaniyyah dan menyerahkan kedaulatan sepenuhnya kepada bangsa Arab. Mustapha Kamil Pasha sebagai pemimpin gerakan nasionalisme di Mesir memberikan bantahan kepada Mr. Blanc dalam bukunya yang berjudul “ Al Mas`alah Asy-syarqiyyah” mengatakan “ Seharusnya pengarang buku Masa Depan Islam mengatakan bahwa yang lebih tepat dilakukan oleh orang Islam adalah mengangkat Inggris sebagai pemimpin dan kalau perlu khalifah harus dari orang inggris “. Dokumen ini mengatakan bahwa ada hubungan yang sangat kuat sekali antara gerakan Syarif Husein ( 1272 H-1350 H/ 1856 M-1931 M) dengan para aktivis Islam yang didalamnya terdapat nama Afghani. Gerakan Syarif Husein ini adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk membentuk negara Arab yang independen yang memisah dari kekuasaan Turki Utsmani. Mereka berkeyakinan bahwa khalifah yang sah adalah khalifah yang berasal dari Quraish sehingga sehingga kekuasaan Turki Utsmani tidak sah menurut mereka. Anehnya pemerintah Inggris berhasil memancing di air keruh, mereka dengan dalih ingin menumbangkan kekuasaan Utsmani yang diktator pura-pura membantu gerakan Syarif Husein dan menjanjikan sesuatu kepada mereka yaitu berdirinya negara Arab independen.  Adapun mengenai keterlibatan Afghani dalam persekongkolan ini kalau misalkan ini benar, adalah sebuah kesalahan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Meski demikian perbuatan Afghani tidak mutlak kita salahkan seratus persen, karena saat itu ia hidup di saat ia begitu bersemangat untuk mempersatukan bangsa Arab dan ketika ia bergabung dengan Syarif Husein bisa jadi ia tidak mengetahui bahwasanya gerakan ini telah didomplengi oleh penjajah Inggris.
4. Dukungan Afghani terhadap penjajah Rusia dan mengusulkan kepada mereka untuk meminta bantuan kepada Persia dan afghanistan dalam menaklukkan dan menduduki wilayah India. Sikap Afghani ini dianggap keluar dari jalur Jamiah Islamiyyah yang dirintis oleh sultan Abdul Hamid. Yang paling tidak pahami adalah sikap Afghani yang mendukung kemungkinan masuknya tentara Rusia ke wilayah India.
5. Perbedaan pemahaman dalam akidah antara Afghani dengan ulama-ulama terkemuka Istambul. Seorang Syaikh bernama Kholil  Fauzi menulis dalam kitabnya  Assuyuf Alqawathi` menyerang pemikiran Afghani. Kemungkinan Afghani dianggap orang yang mendewakan falsafat dan sekali lagi falsafah adalah makhluq yang sangat aneh bagi mereka dan pantas untuk dicampakkan ke tong sampah, karena manusia akan selalu memusuhi apa yang tidak mereka kenal.
6.Sultan Abdul Hamid lebih cenderung untuk memusatkan seluruh kekuasaan ditangannya. Sementara banyak dari para menteri, tentara dan para pejabat tinggi yang telah terpengaruh dengan pemikiran Eropa lebih suka mendirikan pemrintahan yang bercorak demokrasi ala Eropa. Dalam sistem ini anggota Majlis adalah bukan tunjukkan dari sultan yang berkuasa melainkan pilihan dari seluruh rakyat yang berada dibawah payung Utsmaniyyah. Afghani sendiri lebih cocok dengan sistem demokrasi dan kebebasan dalam mengungkapkan pendapat.
Namun meski diantara Afghani dan sultan Abdul Hamid terdapat beda pendapat tapi hal ini tidak berarti antara keduanya selalu ada permusuhan. Afghani sendiri dalam beberapa kesempatan memuji Sultan Abdul Hamid.
Diantara pujian Afghani terhadap Sultan Abdul Hamid “ Apabila Sultan Abdul Hamid ditimbang dengan empat orang yang jenius pada zamannya  niscaya Sultan akan mengalahkan kejeniusan mereka. Sebuah keunikan yang saya temui, orang yang memusuhi Sultan Abdul Hamid ketika dihadapkan pada hujjah dan logika Sultan Abdul Hamid ia tiba-tiba menjadi suka dengan Sultan “. Afghani sendiri juga mengakui kejelian Sultan dalam mengantisipasi bahaya yang ditimbulkan oleh Eropa terhadap negeri Utsmaniyyah. Afghani mengatakan “ Keseriusan Sultan dalam membawa kemajuan kaum muslimin dan usahanya menghadang konspirasi Eropa membuatku dengan ikhlas membaiatnya sebagai khalifah dan saya sangat yakin bahwa kerajaan-kerajaan Islam tidak akan selamat dari perangkap dan usaha Eropa untuk membagi-bagi daerah tersebut kecuali bila kita sadar dan terbangun dan mau bernaung dibawah kekhilafahan agung “.

Detik-detik terakhir Afghani
Afghani meninggal dunia pada pagi hari 9 Maret 1897 M. Afghani wafat selama dalam pengasingan di Turki. Selama hidup Afghani  banyak mendapat cobaan dan fitnah yang ia hadapi dengan tabah dengan jiwa yang penuh kepahlawanan. Ia selalu mengabdikan dirinya untuk umat dan menentang kedzaliman dan tirani yang saat itu melanda seluruh belahan timur dunia.Umat Islam sangat berhutang budi kepadanya. Meskipun Ia telah meninggal tapi cita-citanya yang luhur akan selalu dikenang dan tak akan hilang ditelan zaman. Untuk melukiskan bagaimana kepribadian Afghani dapat kita lihat dalam potongan sajak Arab ynag artinya Hiduplah dalam keadaan mulia atau matilah juga dalam keadaan ynag mulia. Sayang sekali Afghani sebagai seorang pahlawan yang seharusnya mendapat penghormatan yang  selayaknya tapi justru sebaliknya, setelah ia meninggal dunia dan meninggalkan kepada umat Islam semangat untuk bersatu dan merdeka banyak orang yang tidak memperhatikannya. Pemerintah Turki saat itu sengaja menjauhkan rakyatnya untuk tidak mengenang seorang jamaluddin Al Afghani sebagai sosok yang harus di hormati. Kubur Afghani sendiri bertahun-tahun sepi dari orang yang menziarahinya. Seorang berkewarganegaraan Amerika bernama Karen membangun kuburan Afghani pada tahun 1926. Baru pada tahun 1944  jasad Afghani dipindah ke Afghanistan.

Daftar Pustaka ;
1. Al  A`mal Alkamilah Muhammad Abduh, taqdim Muhammad Imarah, Darusy-syuruq.
2. Ruwwadu Al Wa`yi Alinsani fi Asy-syarqi Al-islami, Doktor Utsman Amin, Maktabah Usrah.
3. Ulama` fi Wajhi Ath-thughyan, Doktor muhammad Ragab Albayyumi
4. Addaulatul utsmaniyyan Awamil Annuhudl wa Asbabu Assuquth, Ali Muhammad Muhammad Ash-shalab, Maktabah Iman.
5.Majalah Al Azhar edisi Desember 2002 / Syawwal 1423
6. Terjemahan Dan Tafsir Al Qur`an , Penerbit Fa. Sumatera

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s